NIC : Indonesia Negara Kuat tahun 2025
Laporan NIC : Indonesia menjadi Negara Kuat pada tahun 2025
Endrawan Ch
Pengaruh Amerika Serikat
NIC memprediksikan ditahun 2025, pengaruh hegemoni Amerika Serikat akan berkurang. Amerika masih dominan di bidang militer. Sedangkan di bidang teknologi dan sains, profilerasi sistem pertahanan akan berkurang.
Amerika masih berperan penting sebagai “penyimbang kekuatan regional” di Timur Tengah dan Asia, meskipun belakangan ini muncul reaksi anti-Amerika. Termasuk juga peran militer Amerika dalam memerangi teroris. Kekuatan Amerika akan memudar seiring meningkatnya kekuatan negara baru yakni China, Rusia dan China.
Prediksi ini sesuai dengan ramalan Arnold Toynbee, sejarawan Inggris ternama satu abad yang lalu, dia mengatakan bahwa abad 19 adalah abad Inggris, abad 20 adalah abad Amerika dan abad 21 adalah abad China. Di abad 21, pengaruh Amerika mirip dengan pengaruh Inggris di abad 20. Ramalan Toynbee diperoleh dari hasil riset sepanjang hidupnya berdasarkan sejarah dunia dan perubahan budaya….
Barat vs Timur
Trend peningkatan kesejahteraan dan kekuatan ekonomi global saat ini sedang bergeser dari negara Barat ke Timur, dan trend ini akan berlanjut terus.
Rusia, China, India dan Brasil adalah negara-negara yang tumbuh pesat karena peningkatan harga komoditas pasar dan harga minyak. Industri-industri jasa dan manafuktur dipindahkan dari Barat ke Asia serta panen dolar oleh negara Teluk (Timur Tengah) dan Rusia karena kebutuhan “emas hitam” yang terus meningkat.
Tidak ada negara yang dapat menyamai level dari pertumbuhan China, India atau Rusia serta begitu juga tidak ada negara yang menyamai pengaruh global dari ketiga negara tersebut.
China dipastikan memiliki pengaruh global yang jauh lebih kuat dalam 2 dekade mendatang dibanding negara-negara lain. Jika trend saat ini tetap berlanjut, tahun 2025 China akan menjadi negara dengan ekonomi terbesar ke-2 dan memiliki militernya yang ‘disegani’.
Negara Muslim
Badan Intelijen Amerika tersebut memprediksikan bahwa dalam 15 tahun mendatang, Turki mengalami perpaduan kekuatan Islam dan nasionalis, yang bakal menjadi model untuk mempercepat modernisasi negara-negara di Timur Tengah. “Turki sangat mungkin akan menuju perpaduan kekuatan Islam dan nasionalis, bakal menjadi model untuk mempercepat modernisasi negara-negara di Timur Tengah,” kata laporan itu.
Diantara negara-negara muslim, NIC meramalkan Iran, Indonesia dan Turki akan memiliki kekuatan politik dan ekonomi yang kuat dalam 15 tahun mendatang.
Turki akan memegang lebih banyak peran secara ekonomi dan politik di dunia internasional pada 2025, namun negara itu akan menjadi lebih Islami dan Nasionalis. NIC mengatakan pihaknya memperkirakan sekularisme di Timur Tengah akan menyurut sejalan dengan percontohan Turki.
“Di Timur Tengah, sekularisme — yang juga dianggap sebagai bagian integral model Barat – mungkin menurun secara tajam karena partai-partai Islam mendominasi dan menguasai pemerintahan,” katanya.
“Turki saat ini, kami dapat melihat Islamisasi meningkat dan sangat menekankan pertumbuhan ekonomi dan modernisasi,” katanya.
Air dan Makanan
Bank Dunia memprediksikan permintaan sumber pangan akan meningkat 50% di tahun 2030, sebagai dampak peningkatan populasi dunia dan meningkatnya standar hidup serta perubahan pola konsumsi kaum menengah yang mengikuti ala Barat.
Sedangkan dalam ketersedian air bersih, jumlah negara yang kekurangan pasokan air bersih meningkat dari 23 negara (600 juta penduduk) saat ini menjadi 36 negara (1,4 milyar penduduk) di tahun 2025.
Kelangkaan air akan bertambah rawan di daerah Asia dan Timur Tengah. Hal ini akan menjadi persoalan utama dan kerjasama dalam menangani sumber air bersih menjadi lebih serius (hal sulit) di dalam maupun antar negara.
Dan juga, jika para pemimpin dunia memutuskan untuk menguasai sumber energi untuk keamanan domestik, maka pertikaian antar negara sudah tidak dapat dihindar lagi.
Prediksi dan Kesimpulan
Beberapa aspek lain yang dirilis oleh NIC mengenai trend perkembangan dunia hingga tahun 2025 yakni mengenai teroris, isu senjata nuklir, perkembangan situasi dan kondisi negara Afrika, penyakit yang berbahaya dan trend teknologi.
Jauh sebelum hasil rilis dari NIC, beberapa ahli juga telah memprediksikan kejatuhan negara-negara Barat, yang diikuti kebangkitan negara Timur. Kekuatan dunia akan kembali lagi ke asalnya, yakni Peradaban Sungai Huang Ho (China), Peradaban Hindustan (India) dan Peradaban Eufrat dan Tigris (Iran, Turki seharusnya Irak).
Arus pergeseran global ini semakin cepat bergerak, setelah negara seperti China, Rusia, India, Iran, Brasil, Venezuela, melaksanakan kebijakan pemerintah yang lebih mementingkan kepentingan negara dan usaha rakyat, daripada kepentingan perusahaan besar. Mereka membangun negara dengan landasan nasionalisme, dan secara ketat memproteksi liberalisme kapitalis yang didengung-dengunkan oleh Amerika dan sekutunya.
China memproteksi investasi perusahaan MNC sehingga tidak secara bebas (liberal) menguasai sektor-sektor utama negara (yang menguasai kepentingan hajat orang banyak). Begitu juga mental orang India yang bangga dengan produk mereka (terus meningkatkan nilai produk), mendorong industri rakyat dan edukasi menggunakan produk dalam negeri (swadhesi) yang telah dirintis oleh founding father nya – Mahatma Gandhi. Begitu juga kesatuan rakyat Iran mendukung kemandirian dan tidak tunduk dengan kekuatan Amerika. Hal yang serupa dengan rakyat Amerika Latin, seperti pemimpin Hugo Chavez
Nilai Pelajaran
Bagaimana dengan Indonesia? Apa yang dapat kita pelajari?
Kita tidak harus percaya hasil ramalan NIC. Kebanyakan orang Indonesia mudah terlena, mendengar berita ini akan merasa senang dan “bermalas-malasan”, akibatnya bukan menjadi negara kuat, tapi sebaliknya menjadi negara pemalas dan lemah.
Untuk itu, kita perlu menyikapi dengan hal positif. Pertama, laporan ini mempertegas kebenaran bahwa jika suatu negara dibangun dengan landasan kekuatan ekonomi rakyat yang bermental nasionalis (bukan bermental kompeni, terjajah dan korup), maka Indonesia akan menjadi negara yang kuat dan rakyat dapat hidup terhormat. Inilah hasil pemikiran Bung Karno dan para founding father yang tercantum dalam UUD 1945 (sebelum amandemen) pasal 33.
Pelajaran yang dapat kita pelajari adalah bangkitlah kebanggaan kita sebagai suatu bangsa yang besar, yang berdirikari (jangan terulang lagi kasus sikap pemerintah yang didikte Amerika untuk mendukung sanksi kepada Iran di tahun 2006), membantu UKM bagi rakyat kecil (jangan terulang lagi kasus memberi dana rakyat hingga ratusan triliun kepada pengusaha kaya melalui BLBI), pemerintah yang sarat KKN yang didikte IMF (kasus BCA, pemerintah menangani utang BCA, lalu menjual kembali BCA dengan nilai penjualan dibawah total utang yang ditanggung pemerintah). Dan terakhir gunakanlah produk dalam negeri (khususnya produk industri kecil dan menengah) dan berikan feedback positif untuk produk tersebut. Dan sebaliknya, pengusaha harus memiliki visi maju dengan mau menerima perbaikan yang disarankan konsumen.
Ayo, Bangkit dan Jangan lengah.
Referensi :
www.antara.co.id
www.dni.gov






