Skip to content

Kiai Kaya Raya (Syekh Pujiono) Menikahi Gadis Belia 12 tahun

Oktober 25, 2008

Kiai Kaya Raya (Syekh Pujiono) Menikahi Gadis Belia 12 tahun
25 Oktober 2008
ech-nusantaraku

Pernikahan seorang kiai kaya raya dari Semarang, Syekh Pujiono Cahyo (43 tahun) menikahi Lutfiana Ulfa, anak berumur 11  tahun 10 bulan menjadi polemik di masyarakat kita. Pernikahan siri Syekh Puji berlangsung pada tanggal “istimewa’ 08-08-2008 silam. Kiai  pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Miftakhul Jannah,  Semarang, Jawa Tengah beralasan menikahi gadis-gadis belia  karena dia memang suka yang kecil. Sementara itu, dia  berencana menikahi lagi dengan dua bocah kecil, masing- masing berumur 7 dan 9 tahun. Padahal kiai ini telah beristri.  Setelah menikahi bocah-bocah kecil ini, kiai ini berencana mempekerjakan istri-istri mudanya di perusahaan miliknya, PT Sinar Lendoh Terang.

Timbulnya polemik karena perbedaan antara Undang-Undang  yang berlaku dengan keyakinan pada ajaran Agama.

Secara hukum, kiai ini UU Perlindungan Anak yang melarang  menyetubuhi anak di bawah umur. Lalu UU No.1 tahun 1974  tentang Perkawinan yang melarang menikahi anak gadis di  bawah usia 16 tahun (pasal 7 ayat 1). Dan rencana kiai ini   mempekerjakan istrinya nanti diperusahaannya juga  termasuk pelanggaran UU Ketenagakerjaan yang berisi  melarang mempekerjakan anak di bawah umur lebih dari 3 jam per hari (UU No 13 tahun 2003 – Pasal 71 ayat 2b).

Sedangkan mereka yang mendukung Kiai ini beralasan pernikahan tersebut dilakukan atas dasar agama dan juga meneladani Rasulullah SAW yang menikahi Aisyah, gadis berumur 9 tahun (ada beberapa versi umur). Agama Islam mengizinkan pernikahan dengan gadis yang telah akil baliq (telah menstruasi) dan bahkan sebagian mereka yang mendukung berpendapat meskipun anak tersebut masih kecil (asalkah telah haid) sangat diharuskan menikah jika anak tersebut minta nikah.Dan mereka juga berpendapat bahwa hukum tidak boleh membatasi hak mereka untuk  menjalankan agama berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah-Hadist.

Namun ada hal yang menjadi perhatian masyarakat, yakni syekh Puji sudah pernah nikah 3 kali, kehidupan bersama 2 istrinya yang lain hanya bertahan 1 dan 4 bulan. Kita dapat berasumsi, faktor utama syekh Puji menikah tidak lain tidak bukan karena hubungan suami-istri. Namun, pernikahan ini mendapat kekuatan dari “ajaran agama” yang dianutnya.

Menanggapi fenomena ini, ada beberapa aspek yang dapat kita tinjau.

Fenomena Gunung Es

Pernikahan pria dengan anak gadis belia dibawah umur (definisi hukum dan medis+psikologis) telah banyak terjadi di beberapa daerah di Indonesia. Kisah-kisah pengakuan orang tua, si pelaku, korban  maupun tetangga di tayangan media TV ataupun radio menguak fakta di masyarakat. Hampir semua gadis belia yang nikah dibawah umur terjadi pada keluarga berekonomi dan pendidikan rendah. Umumnya bocah-bocah ini dinikah dengan pria yang hidup berlebihan (relatif kaya maupun sangat kaya).

Kebanyakan gadis-gadis belia menikah karena dukungan (desakan) dari orang tua mereka karena himpitan ekonomi maupun iming-iming harta yang akan diperoleh anaknya nanti. Dengan berbekal pendidikan yang rendah, gadis-gadis belia ini menikah, dan umumnya mereka ini menjadi objek seksualitas pria yang telah beristri. Gadis-gadis ini terjerumus dalam kawin kontrak atau kawin dengan pria kaya yang telah beristri. Kehidupan gadis belia sering berakhir dengan kehancuran keluarga yang baru berjalan 1-4 tahun. Sehingga tidak jarang ditemukan anak gadis yang telah janda pada usia 16-18 tahun di daerah Bogor ataupun Indramayu.

Tidak sedikit kehidupan selanjutnya untuk janda belia ini serta anaknya akan bernasib tragis. Sebagian dari mereka akan menitipkan anaknya pada orang tua mereka, dan mereka bekerja sebagai wanita penghibur di luar kota maupun sebagai TKW. Sebagian lagi, mereka akan hidup pas-pasan dari warisan yang diberikan mantan suaminya. Harapan janda-janda ini tertuju pada anaknya. Jika anaknya adalah seorang gadis, maka dengan pendidikan yang rendah sang Ibu, ibunya akan memperlakukan hal sama pada anak gadisnya. Inilah lingkaran yang tidak berhenti atau disebut “Lingkaran Setan”.

Kedewasaan Manusia

Manusia terdiri dari aspek fisik maupun psikis (jiwa atau batin). Secara konvensi biologis, kedewasaan ditentukan ketika seseorang telah mencapai akil baliq. Seorang manusia bukan hanya terdiri dari unsur biologis, namun ada faktor psikologis yang menunjukkan kedewasaan seseorang. Tentunya faktor fisik mempengaruhi faktor psikis, dan begitu sebaliknya faktor psikis mempengaruhi fisik.

Akil baliq seseorang selain dipengaruhi secara alami, juga dapat dipengaruhi faktor lingkungan (pergaulan, media, informasi). Seseorang yang telah akil baliq tidak bisa dikatakan telah dewasa. Seorang anak balita yang baru dapat berjalan, bukan berarti sudah mantap dalam berjalan. Begitu juga, seseorang jika telah akil baliq (tolak ukur dari mimpi basah atau haid), tidak dapat langsung dikatakan dewasa.

Kedewasaan hal ini harus ditinjau juga dari segi psikis. Kedewasaan ini mencakup pola pikir, kekuatan emosi, pendidikan, pengetahuan, pengalaman menghadapi realitas kehidupan. Hal-hal ini sangat dibutuhkan bagi seseorang untuk menjalin keluarga. Secara umum, anak yang masih berusia kurang dari 15 tahun masih memiliki sifat kekanakan. Kondisi psikis yang masih lemah, dan masih dibutuhnya pendidikan dan bimbingan dari orang tua maupun guru di sekolah. Dari sisi ini, pernikahan dengan anak gadis berumur kurang dari 15 tahun termasuk mencuri kebebasan anak tersebut, merampas pendidikan, memenjarakan perkembangan mental gadis belia tersebut. Selain itu, bisa dipastikan bocah-bocah kecil ini belum siap (belum mengerti) membentuk keluarga.

Pernikahan di Usia Muda – Dampak Psikis maupun Biologis

Pernikahan adalah ikatan lahir batin  antara seorang  pria dan seorang wanita sebagai  suami istri  dengan tujuan membentuk  keluarga atau  rumah tangga yang bahagia yang didasari cinta. Kurangnya moralitas hidup bermasyarakat menyebabkan pernikahan di era ini lebih terkesan karena nafsu, harta dan atau kekuasaan. Pernikahan di bawah umur (15 tahun – relatif) sangatlah tidak lazim dan tidak begitu etis dilihat dari sisi etika sosial. Apalagi  pernikahan ini dilanjutkan dengan hubungan seks, yang mana secara fisik maupun psikologis anak tersebut belum siap.

Seperti dijelaskan di atas, kedewasaan fisik tidak sama dengan kedewasaan psikologis. Meskipun anak gadis itu memiliki fisik besar dan telah menstruasi, secara mental anak berumur 12 tahun belum siap untuk berhubungan seks. Rata-rata anakgadis belia ini masih belum mengerti hubungan seks, sehingga hubungan seks ini dapat dianggap pemaksaan. Mungkin saja anak tersebut suka dengan pria berumur karena sifat yang dimiliki (kedermawan, kebapakan), jadi gadis kecil suka bukan karena seks. Dan kebanyakan pria hidung belang akan berasumsi kesukaan anak-anak dibawah umur kepada mereka dianggap sebagai cinta. (kesalahan persepsi pria : pria mengganggap cinta dan siap untuk mengawininya, sedangkan pihak gadis belia “cinta” sebagai suatu “penghormatan”)

Jika saja, gadis belia ini hamil, secara psikologis gadis belia ini belum siap untuk hamil dan melahirkan. Apalagi gadis ini akan berinteraksi dengan orang lain. (jangan-jangan di”kurung” di rumah sehingga tidak terjadi interaksi). Dan bila si gadis belia ini masih dalam pertumbuhan biologis, dan pada saat yang sama dia hamil, maka ini akan berpengaruh pada bayi yang dikandungnya. Nutrisi utama tubuh akan terbagi dua: pertumbuhan biologis (tinggi tubuh, sel sekunder) dan janin. Hal ini akan mengakibatkan kelahiran bayi yang tidak normal.

Apa yang dapat dilakukan?

Memeluk dan menjalankan agama dan keyakinan masing-masing merupakan hak asasi fundamental. Maka setiap penduduk memiliki hak menjalankannya tanpa boleh dibatasi oleh pihak mana pun. Tentu saja, hak menjalankan agama dan keyakinan ini tidak melanggar hak orang lain.

Dari paparan di atas, menikahi seorang anak berumur 12 tahun (dapat dipastikan kondisi psikis masih belum matang) yang disertai hubungan seks dan aturan keluarga yang ketat dari sang suami, merupakan tindakan merugikan sang anak secara tidak langsung (maupun langsung). Secara tidak langsung berarti, mungkin saja anak gadis ini masih belum mengerti tentang lika-liku keluarga, pengetahuan, kedewasaan psikis, kematangan emosional.

Anak berusia 12 tahun ini sudah seyogyanya mendapat pendidikan secara formal. Jika berharap menikah (dengan imbalan), menikahlah anak tersebut setelah memberikan pendidikan yang layak hingga anak belia ini berusia >16 tahun (4 tahun untuk perkembangan biologis + psikologis).

Bagi kita, sudah seyogyanya kita menjalankan hak kita tanpa merugikan hak orang lain (terutama anak kecil yang masih belum tahu apa-apa). Bantulah pendidikan generasi muda-mudi kita. Jika anda adalah orang yang memiliki dana yang cukup, anda dapat membantu anak-anak yang miskin ini untuk mendapatkan pendidikan, kursus, atau pelatihan.  Dan dengan adanya respons dari masyarakat terhadap polemik ini mengidentifikasikan perhatian masyarakat terhadap kehidupan sosial di masyarakat kita menuju lebih baik.

Janganlah mempergunakan mereka sebagai objek murahan, objek eksploitasi. Perlakukanlah mereka seperti manusia, bukan sebagai barang yang dapat dibeli oleh uang dan kekuasaanmu. Dengan tidak mendukung (jangan memusuhi) tindakan ini, anda telah membantu kebaikan bagi masyarakat kita. Lebih baik tindakan nyata (dengan membantu pendidikan, pelatihan mereka) daripada mengkritik atau menghujat orang lain.. Mohon untuk tidak memberi komentar yang menghujat.

Trims (Revisi : 29 Oktober 2008)

About these ads
11 Komentar leave one →
  1. Dhavala permalink
    Oktober 26, 2008 4:28 PM

    Wah….kasus eksploitasi hak anak-anak untuk belajar, berkreasi, menuntut ilmu telah masuk ke Indonesia. Jangan meniru pria-pria radikal di Afganistan yang mengganggap wanita sebagai obyek yang dapat diperjualbelikan.
    Ini hanyalah fenomena gunung es. Banyak sekali gadis belia di daerah Bogor dan Indramayu menjadi korban percaya membabi buta.

  2. Rinceu Soe permalink
    Oktober 27, 2008 11:07 AM

    Kata ayah Lutfiana , sang anak sudah lolos tahap seleksi (sumber berita pagi RCTI). Kalau di tempat lain saya mempertanyakan kemana nurani sang ‘Pujiono’ (tanpa berani menyalahkan), kepada ayah Lutfiana saya juga tidak berani atau berhak menyalahkan , cuma bertanya: “Apakah betul anda sayang anak anda Lutfiana ???”

  3. U're PEdofil permalink
    Oktober 28, 2008 5:54 AM

    PEDOFIL………

  4. Andjar permalink
    Oktober 29, 2008 5:21 AM

    Kasus ini, sebenarnya sudah usang, dan telah berlangsung bertahun-tahun. Jadi mestinya nggak perlu di blow up. Ibu saya punya pembantu, dia punya anak, dan dikawinkan pada usia yang sama +/- 12th, belum mens lagi, dan maaf (menurut cerita dia setelah dewasa atau tua dia bercerita juga belum tumbuh bulu-bulunya. waktu kawin. Didaerah saya terutama dikampung Madura, hal ini sampai detik udah jadi rahasia umum. Entah, kok baru sekarang baru diblow up. Apa karena seorang kyai, syekh atau karena orang kaya ?

  5. Dhavala permalink
    Oktober 29, 2008 7:15 AM

    Akhirnya, Syekh Puji bersedia mendengar masukan dari Kak Seto.
    Harusnya pemerintah lebih memerhatikan nasib rakyat berekonomi rendah dan meningkatkan pendidikan moral di sekolah. Biar anak-anak bebas dari seks dan juga bebas menuntut ilmu. Win-Win Solution

  6. nusantaranews permalink
    Oktober 29, 2008 8:44 AM

    Polemik pernikahan Syekh Puji mulai beredam. Setelah dia bersedia menerima saran dari Ketua Komnas Perlindungan Anak – Kak Seto untuk membatalkan pernikahan dia dengan Ulfa (siswa kelas 8 – SMP).
    Kita turut berapresiasi atas usaha Kak Seto dengan cara negosiasi (bermusyarah), bukan dengan cara kekerasan ataupun ancaman. Begitu juga dengan Syekh Puji, kita perlu turut berapresiasi karena telah meredamkan polemik dan mau menerima pendapat orang lain.
    Begitulah seharusnya kita dalam memecahkan permasalah bangsa ini, butuh pengendalian diri dan pengertian bersama.

    Dari peristiwa ini, ada banyak pelajaran dan tindakan yang dapat diambil oleh masyarakat, pemerintah maupun penegak hukum.
    Bagi masyarakat, janganlah kita merasa selalu benar. Jadilah masyarakat yang mau menerima pendapat atau kritik yang membangun.
    Bagi pemerintah, dengan terkuatnya kasus ini (fenomena gunung es), sudah saatnya mengolah sistem pendidikan yang baik, dan meningkatkan perekonomian masyarakat kecil, dan khususnya membina khusus daerah yang bermasalah dengan eksploitasi anak-anak dan wanita (khusunya Indramayu).

    Bagi penegak hukum, tegakkan supremasi hukum. Jangan gunakan hukum untuk menindas rakyat kecil, dan membiarkan “penjahat besar” berkeliaran.

  7. suka anak kecil permalink
    Oktober 29, 2008 10:24 AM

    Syukur…akhirnya kiai ini insyaf dan tidak memalukan wajah islam.

  8. ruslan permalink
    Oktober 30, 2008 1:53 PM

    Memang begitulah (seperti perbuatan syekh puji, red) yang dikatakan sebagai Islam sejati,wong dari jaman nabi sudah begitu ajaran-ajaran islam,koq.!!!

    Ajaran Islam itu identik dengan tukang kawin,teroris,ilmu santet,mantra-mantra,dll…….!

  9. Kautsar Iman permalink
    Oktober 31, 2008 3:51 AM

    Saya tidak stju dg perbuatan Syeikh Puji…wlwpun bnar scra agma. knpa Syeikh Puji tidak mengangkatnya menjadi ank saja…..?? klw memang punya tujuan baik…. jika sperti in., klihtn bhwa Syeikh Puji hanya mengikutkan hwa nafsunya sja…dan ini kurng biasa…
    ya Syeikh….bukankah se2orang akan celaka jika kalah dan tunduk pada hawa nafsunya……..??????

  10. Maret 10, 2009 11:36 PM

    Siapapun akan menilai kurang baik melihat kelakuan syeh Puji,yang menilai dia baik itu sama gilanya, jangan lihat harta belum tentu bawa berkah petaka iya…
    Kalau kawinnya sama orang yang berumur seimbang kali gak bakalan jadi fenomena, Kalau bisa mampu ya silahkan, sunnahnya saja cuma 4. itupun bukan hanya adil dalam nafkah harta nafkah batin juga harus adil, mungkin nafkah harta si Puji dapat….. bathin belum tentu wong anak seumur ulfa di kawin apa batinnya enak, yakin gak lah …. dia mau karena hartanya, coba kalau syeh puji seperti gue kambing saja sama gue gak mau… maksudnya saya yang gak mau sama kambing.

  11. Maret 3, 2013 10:31 AM

    kok aku jd bingung gan, emang beneran Nabi Muhammad pernah menikahi anak umur 9 tahun???

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.037 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: